Minggu, 20 Juni 2010

JANGAN HANYA SEGITU

Dewasa ini, ketika korupsi, kolusi dan nepotisme makin subur dan berkecambah dalam aneka bentuk, kata-kata bijak di atas tampaknya tidak berarti apa-apa. Ada satu pepatah Jawa yang sering saya plesetkan: “Ngono ya ngono, namun ojo mung sa ngono”, arti harafiahnya sering saya terjemahkan demikian: “Begitu yang begitu, tapi jangan hanya segitu, kalau bisa lebih dari itu”. Artinya, jika ada peluang yang memungkinkan, kalau bisa, jangan setengah-setengah untuk korupsi, kolusi dan nepotis. Jika ada peluang harus dimanfaatkan sebaik mungkin, jangan sampai menyesal setelah peluang itu lewat. Itulah cara berpikir orang yang serakah, cara berpikir orang yang tidak bijaksana. Cara berpikir orang yang tidak pernah bersyukur atas hidup dan kehidupannya.

Membeli kekayaan tidak dengan menjual kebajikan menegaskan pada kita bahwa kebajikan, kebijaksanaan hidup di atas segalanya. Orang boleh saja miskin secara material, tetapi kalau memiliki kebajikan, akan membuat “dunia” sekitar tunduk padanya. Kekayaan memang bukanlah sesuatu yang buruk....dan orang perlu kaya supaya mampu hidup lebih baik. Tetapi kekayaan bukanlah segalanya....Apalah artinya kekayaan, kalau orang hidup tidak bahagia dengan dirinya, selalu merasa dikuasai oleh kekayaan, bahkan tidak bisa tidur dengan tenang memikirkan harta kekayaannya. Dengan hidup bijak, orang bisa menguasai segala sesuatu, termasuk kekayaannya. Orang bisa menikmati kehidupan itu sendiri.

Membeli kekuasaan tidak dengan menjual kebebasan, menegaskan pada kita bahwa kekuasaan itu hanyalah atribut yang melekat pada seseorang, sesuatu yang dari luar, sesuatu yang bisa diperjuangkan. Sedangkan kebebasan adalah sesuatu yang sudah melekat pada diri seseorang. Dengan kebebasan dalam diri (bebas dari dan bebas untuk), orang mampu mengatur hidupnya secara bijak, benar dan tanggungjawab. Orang yang haus kekuasaan, seringkali merasa terpasung dan tidak bebas untuk memperkembangkan dirinya. Orang hidup dalam ketakutan, bukan dalam kebenaran.

Melayani Allah tidak hanya segitu. Kita seringkali begitu gigih berjuang demi kekayaan dan kekuasaan dengan menggadaikan kebenaran, kebebasan dan terutama menukar iman/keyakinan kita dengan hal-hal duniawi seperti uang, pangkat dan kekuasaan...Betapa mudahnya mata dan hati kita gelap atau disilaukan oleh hal hal-hal duniawi. Mengapa untuk sang Pencipta kita hanya berusaha setengah-setengah, sedangkan untuk hal-hal duniawi kita begitu total dan mati-matian? Saya pribadi, pada awal-awal meninggalkan hidup panggilan (calon imam) selalu merasa bahwa saya telah menyia-nyiakan karunia Allah. Saya merasa bahwa perjuangan saya untukNya “mung sa ngono”, hanya segitu...saya hampir merasa duniaku tamat dengan tidak menjadi imam (meski itu saya putuskan dengan kehendak bebas saya)...Ternyata, untuk berbuat yang terbaik bagi Allah, ada banyak cara dan jalan...saya justru semakin menemukan diri bahwa saya bisa melayani Allah dengan menulis sebagaimana yang saat ini saya lakukan...sehingga permenungan makin bijak dalam hidup ini sampai di tangan Anda...Janganlah kita merasa rendah diri, bila apa yang kita cita-citakan gagal kita raih...masih ada banyak cara untuk berbuat baik dan memuji Allah...yang penting cara kita tidak bertentangan kehendaknya, tidak menggadaikan kebenaran dan iman, tidak mengorban orang lain demi ambisi dan egorime kita...Hendaklah apa yang kita lakukan senantiasa di jalan Allah. Indah sekali rasanya....kalau kita mendasarkan hidup dan cita-cita kita dalam kehendak dan kuasa Allah...Jangan setengah-setengah berbuat kebaikan, kebajikan dan kebenaran bagi Allah dan sesama....

1 komentar:

  1. JAngan hanya segitu ...!!!
    perbuatlah apa yang bisa kamu perbuat untuk kebaikan

    BalasHapus