Minggu, 20 Juni 2010

Melihat dan Memandang

Sebuah percikan permenungan dari utak-atik kata dan bahasa.yang mengusik saya di sela-sela kerja.
Dalam bahasa Perancis kata melihat dan memandang/ memperhatikan dipisahkan secara jelas dalam kata voir dan regarder. Memang sepintas kata voir dan regarder ini sama artinya, karena sama-sama menggunakan aktivitas mata. Namun ada nuansa yang sangat berbeda dari kedua kata itu. Kita bisa melihat banyak hal dalam sekali sapuan mata, tetapi kita tidak bisa memperhatikan sesuatu secara jelas dan fokus. Memperhatikan butuh “berhenti sejenak” pada suatu objek. Sedangkan melihat dapat terjadi sambil lalu saja. Atau dalam bahasa Inggris kita kenal kata see (melihat) dan look at (memandang, memperhatikan). Kata see me (lihatlah saya) akan terasa “ngambang” jika dibandingkan dengan look at me (pandanglah saya). Melihat dan memandang meski bermakna sama, memiliki nuansa yang berbeda. Regarde moi, look at me (pandanglah saya) terasa lebih familiar dan intim/personal, sedangkan see dan voir terkesan agak asing dan tidak personal.
Hal yang sama dapat kita berlakukan untuk diri kita. Ketika saya berkata, “saya melihat diri saya di cermin” akan berbeda nuansa dan maknanya dengan “saya memandang, memperhatikan diri saya di cermin.” Menurut saya, melihat dapat terjadi secara global terhadap diri, sedangkan memperhatikan, saya berusaha sedetail mungkin menelusuri diri saya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memperhatikan diri berarti kita memperlakukan bagian-bagian tubuh kita secara personal dan intim.
Dalam pengolahan rohani (bagi yang pernah dibina dan membina diri dalam panggilan religius tentu sudah terbiasa) menurut saya, voir atau regarder ikut menentukan cara kita memperlakukan diri. Regarder selalu bernuansa lebih intim dan personal, maka kebiasaan untuk memandang diri secara positif (detail-detail diri) akan membantu kita untuk memandang dunia dan sesama. Bila kita menuntut orang untuk regarde moi avec ton amour (perhatikan saya dengan cintamu) maka kita tentu akan memberikan cinta sebelum kita meminta: J’ai vous donne mon amour (saya telah memberikan cintaku kepadamu).
 
Sebagai ilustrasi meski tidak benar-benar “ngeh” alias cocok, kisah baut kecil ini bisa menginspirasi kita.
Sebuah baut kecil bersama ribuan baut seukurannya dipasang untuk menahan lempengan-lempengan baja di lambung sebuah kapal besar. Saat melintasi samudera Hindia yang ganas, baut kecil itu terancam lepas. Hal itu membuat ribuan baut lain terancam lepas pula. Baut-baut kecil lain berteriak menguatkan, 'Awas! Berpeganglah erat-erat! Jika kamu lepas kami juga akan lepas!' Teriakan itu didengar oleh lempengan-lempengan baja yang membuat mereka menyerukan hal yang sama. Bahkan seluruh bagian kapal turut memberi dorongan semangat pada satu baut kecil itu untuk bertahan. Mereka mengingatkan bahwa baut kecil itu sangat penting bagi keselamatan kapal. Jika ia menyerah dan melepaskan pegangannya, seluruh isi kapal akan tenggelam. Dukungan itu membuat baut kecil kembali menemukan arti penting dirinya diantara komponen kapal lainnya. Dengan sekuat tenaga, ia pun berusaha tetap bertahan demi keselamatan seisi kapal. Penemuan diri yang dilakukan baut kecil terjadi setelah dia memandang, memperhatikan detail-detail dirinya secara positif. Bagaimana dengan kita???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar